Selasa, 12 Desember 2017

Berbagai macam Fenomena dan Bentuk Profesional Public Relations

Fenomena dan Profesional Public Relations
            Berbagai masalah yang dihadapi perusahaan atau instansi di era globalisasi sekarang berbagai macam dan sangat kompleks, bukan hanya berasal dari dalam perusahaan tapi juga banyak factor eksternal yang bisa mempengaruhi citra positif sebuah perusahaan atau instansi. oleh sebab itu peran humas pun harus lebih kuat dalam menyikapi masalah yang terjadi, praktisi humas harus dituntut professional dan memiliki kemampuan atau skill yang cukup dalam menanggapi setiap permasalahan yang menimpa perusahaan atau instansi nya. berikut berbagai bentuk fenomena-fenomena yang mempengaruhi aktivitas PR :
A. Fenomena yang Mempengaruhi Aktivitas PR
a. Arus globalisasi. Fenomena globalisasi terjadi sebagai perkembangan peradaban manusia, yang dipicu oleh kemajuan tekriologi komunikasi. Waktu dan jarak bukan lagi masalah yang signifikan. Di sisi lain, penguasaan informasi pun menjadi sebuah kata kunci yang turut mendorong persaingan. Siapa yang menguasai informasi, ‘dia’ akan menang dalam persaingan. Mau tidak mau, praktìsi PR harus memahami globalisasi sebagai fenomena yang sangat mempengaruhi aktivitasnya.
b.Pperubahan sistem politik. Sistem politik Indonesia yang makin demokratĂ­s, membawa pengaruh besar bagi aktivitas PR
c. Perubahan sistem media massa. Media massa, termasuk organisasi kewartawanan mengalami perubahan signifikan sejak dikeluarkannya UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. UU Pers memungkinkan media massa tumbuh bebas, bahkan sangat pesat dan tanpa intervensi pemerintah. Profesi jurnalis pun mendapatkan Kebebasan sepenuhnya. Selain PWI, organisasi kewartawanan  makin banyak bermunculan seperti AJI, IJTI, PFI, dan sebagainya. Fenomena tersebut mendorong PR harus mampu membuat pemetaan dan menjalin relasi baik dengan berbagal jurnalis pada setiap media.
d. Fenomena perkembangan media sosial. Efek dan perkembangan media sosial tersebut membuat arus informasi makin mudah dan cepat bergulir. Fenomena tu memaksa praktisi PR untuk mampu memantau arus opini publik, yang mungkin tidak mencuat pada media konvensional, Banyak informasi penting dan bahkan mungkin lebih faktual untuk kehidupan suatu organisasi, justru muncul dan berkembang melalui media sosial.
e. Fenomena kebebasan informasi. Dengan diberlakukannya UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) maka begitu banyak bal yang harus diubah dalam pengelolaan badan publik atau organisasi. Para PR di berbagai badan publik tidak boleh menutup informasi kepada masyarakat. Betapa tidak, menurut UU itu, semua informasi Publik-- selain yang dikecualikan berdasarkan UU KIP—harus dibuka. Hal ini tentu menuntut praktisi PR untuk mampu menyampaikan informasi tersebut kepada publik.
B. Profesional Public Relatuions
            Membentuk profesionalisme seorang public relation (PR) memerlukan proses pendidikan yang juga harus dilakukan secara profesional sebab PR telah menjadi sesuatu yang bermakna. Terlebih, masyarakat di negara-negara industri maju sudah sejak lama menyadari akan kebutuhan dan eksistensi serta profesionalisme public relation ini.
Perjalanan menuju status profesi PR membutuhkan beberapa indikator yang harus dipenuhi, yakni adanya dasar etika dan kewajiban moral, adanya pendidikan khusus yang sifatnya unik, serta adanya pengakuan komunitas mengenai layanan yang unik dan mendasar selain juga otonomi dalam praktik dan penerimaan tanggung jawab pribadi oleh praktisi.          
Seorang praktisi PR dalam menjalankan tugasnya dituntut profesional, untuk itu seorang praktisi PR harus terlatih dan terbiasa dalam menghadapi masalah yang dialami perusahaannya, oleh sebab itu seorang praktisi PR dikatakan profesional harus memiliki :
a. Memiliki  skill dan kemampuan
Kemampuan ini bisa dimiliki oleh seorang PR ketika mereka masih menempuh study, atau bahkan bisa dimiliki dari hasil pengalaman-pengalaman seblumnya yang sudah pernah diterapkan.
b. Mempunyai kode etik
Mempunyai kode etik merupakan standar moral bagi setiap profesi, baik profesi formal, tertulis dan normative.
c.  Memiliki tanggung jawab profesi dan integritas pribadi yang tinggi
Seorang PR profesional seharusnya memiliki integritas pribadi yang tinggi. Baik terhadap dirinya sendiri sebagai pekerja PR/Humas, maupun terhadap publik, pimpinan, organisasi perusahaan, dan juga penggunanaan media massa, sehingga bisa menjaga nama baik perusahaan.
d  Memiliki jiwa pengabdian kepada public atau masyarakat
Seorang PR yang profesional akan mampu mengabdi sepenuhnya kepada masyarakat atau publiknya. Di dalam hal ini, PR lebih mengutamakan kepentingan publik/masyarakat dibandingkan dengan kepentingan dirinya sendiri. Setiap krputusan yang diambil oleh seorang PR merupakan keputusan yang kegunaannya untuk keperluan publik/masyarakat, bangsa, bahkan negara.






Referensi

Apa Saja Profil, Macam-macam dan Pola Komunikasi PR

Profil, Macam-macam dan Pola Komunikasi PR
            Sebuah perusahaan atau instansi pasti memiliki bagian public relations di dalamnya, bagian humas atau public relations memiliki peran penting di perusahaan karena baik buruknya citra sebuah perusahaan itu tergantung bagaimana penerapan strategi komunikasi yang dilakukan oleh humas di perusahaan atau instansi tersebut. Humas terdiri berbagai macam, baik itu untuk humas dalam perusahaan atau instansi pemerintahan, selain itu humas juga memiliki profil atau bagian tersendiri sesuai dengan tugas kehumasan nya. dalam menjalankan tugasnya humas pun harus menggunakan metode pola komunikasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan komunikasinya. berikut pembahasan mengenai profil, macam-macam dan pola komunikasi humas :
A. Profil Humas
 1. Humas yang Melembaga/In-House PR
            Organisasi humas dalam perusahaan diistilahkan sebagai humas yang melembaga/state of being. Sebagai bidang yang melembaga, berarti memiliki seseorang yang memimpin, memiliki staf, dan memiliki ruang/tempat dan sarana/prasarana pendukungnya. Jabatan-jabatan yang ada dalam bagian humas memiliki tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang jelas. Pengorganisasian di sini adalah tentang struktur, wewenang, tugas, dan tanggung jawab. Humas yang melembaga lebih dikenal dengan istilah bagian/departemen/divisi humas/PR communication.
2. Humas Agency/Ekstern PR
Ekstern PR adalah sebuah lembaga/perusahaan independen yang berbadan hukum dan bergerak dalam layanan dibidang humas. PR ekstern meliputi:
a. PR Full Service, Sebuah perusahaan tersendiri yang bergerak dalam bisnis pelayanan kehumasan, meliputi kegiatan konseling dan sekaligus pelayanan konsultasi dan pelayanan yang mereka berikan kepada klien (perseorangan/perusahaan PR tersebut).
b. PR Consultant, yaitu perusahaan PR yang bergerak dalam Layanan konsultasi kehumasan. Pelayanan kosultan yang diberikan tergantung dari kompetensi yang dimiliki para konsultannya.
3. Event Organizer
            Event Organizer, adalah perusahaan yang melayani jasa sebagai pelaksana sebuah event/kegiatan yang berhubungan dengan publik. Perusahaan ini cenderung spesialis, misalnya:
Launching product, Pameran/ exhibition, Pertemuan-pertemuan (seminar, lokakarya, konvensi, konferensi), Jumpa pers/press conference, press tour, dan sebagainya, Show dan kontes-kontes (Modul Pelatihan Humas, Yuliati et al:2014)

B. Macam-Macam Humas
1. Humas Pemerintahan
            Humas pemerintahan pada dasarnya tidak bersifat politis. Bagian humas di institusi pemerintahan dibentuk untuk mempublikasikan atau mempromosikan kebijakan-kebijakan mereka. Tugas pemerintah memang sangat berat, sebab masyarakat yang dihadapi terdiri dari berbagai publik dengan kepentingan yang sangat kompleks pula
2. Humas Industri dan Bisnis
Humas industri tidak dapat dilepaskan dari prinsip ekonomi, Sebab industri dan bisnis memiliki orientasi pada keuntungan (profit oriented). Dengan demikian, humas industri memiliki suatu daftar prioritas, sehingga sumber daya yang tersedia dapat disediakan seefisien mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Humas industry dan bisnis ini berpengaruh terhadap kehidupan dan operasional industri dan perdagangan misalnya berkaitan dengan citra positif perusahaan di mata konsumen, mengadakan komunikasi dengan pihak internal perusahaan seperti para karyaan dan steakholders.

C. Pola Komunikasi PR
            Berdasarkan kebutuhan akan berkomunikasi, maka terdapat beberapa pola komunikasi. Beberapa sarjana Amerika membagi pola komunikasi menjadi 5 yaitu: ”Komunikasi Antarpribadi (interpersonal Communication, Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communication), Komunikasi Organisasi (Organizational Communication), Komunikasi Massa (Mass Communication), dan Komunikasi Publik (Public Communication).
Selain itu ada pula beberapa macam pola komunikasi yaitu :
a)  Pola Komunikasi Primer
Pola komunikasi primer merupakan suatu proses penyampaian oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu simbol sebagai media atau saluran. Dalam pola ini terbagi menjadi dua lambang verbal dan nirverbal. Lambang verbal yaitu bahasa, yang paling sering digunakan karena bahasa mampu mengungkapkan pikiran komunikator. Sedangkan lambang nirverbal yaitu lambang yang di gunakan dalam berkomunikasi yang bukan bahasa, namun merupakan isyarat dengan menggunakan anggota tubuh antara lain seperti : kepala, mata, bibir, tangan dan sebagainya.
b)  Pola Komunikasi Sekunder
Pola komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama. Komunikator yang menggunakan media kedua ini karena yang menjadi sasaran komunikasi yang jauh tempatnya, atau banyak jumlahnya. Dalam proses komunikasi secara sekunder ini semakin lama akan semakin efektif dan efisien, karena didukung oleh teknologi informasi yang semakin canggih.
c)   Pola Komunikasi Linear
Linear di sini mengandung makna lurus yang berarti perjalanan dari satu titik ketitik yang lain secara lurus, yang berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Jadi, dalam proses komunikasi ini biasanya terjadi dalam komunikasi tatap muka (face to face), tetapi juga adakalanya komunikasi bermedia
d)   Pola Komunikasi Sirkular
Sirkular secara harfiah berati bulat, bundar, atau keliling. Dalam proses sirkular itu terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan kekomunikator, sebagai penentu utama keberhasilan komunikasi. Dalam pola komunikasi seperti ini, proses komunikasi berjalan terus yaitu adanya umpan balik antara komunikator dan komunikan.

Referensi



Selasa, 05 Desember 2017


Media Public Relations

            Peran media social di era millennium sangat besar dalam mempengaruhi pola pikir masyarakat luas, hal tersebut dikarenakan mudahnya masyarakat mendapatkan akses segala macam informasi hanya dari aplikasi smartphone, televisi atau media cetak lainnya.

 melalui media siapapun bisa dengan mudahnya membagikan konten berupa tulisan, gambar, video dan suara yang berisi informasi baik itu hanya menunjukan eksistensi penggunanya atau bahkan menjadi cara penyampaian pesan yang berkaitam dengan bisnis. Karena kemudahan akses informasi yang bisa dengan mudah dihat oleh masyarakat, maka banyak pelaku bisnis ataupun instansi-instansi yang berkaitan dengan masyarakat luas melibatkan media dalam kegiatannya, termasuk juga para praktsi humas. Praktisi humas atau public relation memfaatkan media sebagai sarana mendukung komunikasi baik media komunikasi bagi internal perusahaan maupun bagi  eksternal atau pihak masyarakat. Agar lebih mengetahui peran media bagi humas maka kita harus tahu terlebih dahulu apa itu tujuan humas, apa saja jenisnya dan bagaimana pemilihan media yang tepat sebgai sarana komunikasi public relations.
Adapun tujuan dari media humas atau public relations sebagai perikut :
1. Sarana promosi
2. Media pemasaran
3. Komunikasi berkesinambungan
4. Meningkatkan kepercayaan publik
5. Meningkatkan citra perusahaan/organisasi
Jenis Media Humas
Menyadari potensi yang dimiliki oleh media massa dalam menyebarkan iinformasi dan berita, maka diperlukan pemikiran tentang pemilihan media dan informasi, sehingga segala kegiatan promosi yang dilakukan oleh Humasbenar-benar dapat dipubliasikan secara efektif efektif dan efsien.

 Berikut jenis media yang seri digunakan oleh praktisi humas bagi pihak Eksternal/ public
1. Media cetak ( surat kabar,  majalah dll)
2. Online Media (Website, blog, media social,  email dll)
3. Broadcasting Media (radio, televisi dll)
4. Spesial event (seminar , workshops dll)
5. Autdoor Media / Media luar Ruang (spanduk, papan reklame, poster dll)

Pemilihan media PR Untuk Pihak Eksternal Kelebihan dan Kekurangannya
pemilihan media berita adalah persiapan dan penyiaran berita pada media cetak dan elektronik. Bagi kelompok publik kecil dalam suatu organisasi dipilih media komunikasi (jurnal) internal yang berjenis-jenis secara teratur dengan beberapa variasi. Perlu diperhitungkan di sini cakupan pembaca, kuantitas, frekuensi, kebijakan, judulnya, dan proses percetakannya, gaya dan format, langgangan, iklan, serta distribusinya. berikut jenis-jenis media yang digunakan bagi pihak eksternal :
a. Radio,  kelebihannya penyampaian gagasan sederhana dan langsung, teks luwes (mudah dikoreksi), punya publik khusus; kekurangan : dialog dan materi kurang variasi, fakta tak bisa dibeberkan lengkap, melelahkan (suara dan waktu terbatas), hanya bisa didengarkan sekali.
b. Siaran televisi; kelebihan : jangkau masyarakat luas, audio visual kekurangan : biaya mahal, komunikasi satu arah, siaran cepat, daya beli mahal
c. Surat kabar kelebihan: menjangkau semua lapisan masyarakat, murah; kekurangan: penyampaian berita tergantung penulis (isi sudah benar? mudah dimengerti  dan dicerna awam? dll)
d. Media Online kelebihan: Trending, terutama media sosial & blog, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, menjangkau seluruh dunia (internasional), dapat diakses kapan dan di mana saja, terdokumentasi. kekurangan: butuh akses internet, SDM bidang media online masih terbatas, butuh keterampilan khusus mengelola & menulis di media online (internet).*
selain digunakan sebagai sarana penghubung ke pihak eksternal atau khalayak umum, media humas juga digunakan bagi pihak internal perusahaan seperti  karyawan, pemegang saham, dan hubungan industrial.

Bagi pihak Internal perusahaan media yang di gunakan adalah :
1. Buletin internal, Buletin internal biasanya pihak manajemen yang menetukan, informasi yang dimuat umunya berkaitan dengan informasikan kebijakan, perkembangan bisnis perusahaan dan targetnya, serta memuat wacana atau opini dari stakeholder perusahaan.
2. Papan pengumuman , papan pengumuman digunakan untuk menempelkan lembaran informasi yang kurang lebih sama dengan isi dari bulletin, hanya saja keberadaan papan informasi lebih mempermudah pembaca dan dapat dilihat banyak orang.
3. kunjungan berkala, dan tatap muka. kunjungan berkala atau tatap muka juga dianggap penting karena dengan berinteraksi langsung diharap kan memberikan kesan lebih personal dan juga dapat melihat dan merespon langsung masalah tentang perusahaan kepada para karyawan atau steakholder lainnya.




Referensi




Kampanye Public Relations

            Kampanye sering kita dengar sehari-hari apalagi pada saat musim pemilihan umum pada kegiatan pesta demokrasi kita, tapi arti kata kampanye sebenarnya bukan hanya untuk kegiatan politik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kampanye adalah gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dan sebagainya. Dari arti kampanye tersebut kita lihat ada kata-kata “mengadakan aksi” nah mengadakan aksi seperti apa yang dimaksud ? dalam arti kata kampanye itu sendiri tidak disebutkan secara khusus mangadakan aksi untuk apa jadi secara otomatis tentusaja makna dari kata mengadakan aksi itu bersifat umum. 

Dalam public relations arti kampanye dapat di bedakan dalam arti sempit dan luas.
Kampanye PR dalam arti sempit, Bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan khalayak sasaran (target audience) untuk merebut perhatian serta menumbuhkan persepsi atau opini yang positif terhadap suatu kegiatan dari suatu lembaga atau organisasi (corporate activities ) agar tecipta suatu kepercayaan dan citra yang baik dari masyarakat melalui penyampaian pesan secara intensif dengan proses komunikasi dengan jangka waktu tertentu yang berkelanjutan.
Kampanye PR dalam arti luas, Dalam arti umum atau luas, kampanye PR tersebut memberikan penerangan terus-menerus serta pengertian dan memotivasi masyarakat terhadap suatu kegiatan atau program tertentu melalui proses dan teknik komunikasi yang berkesinambungan dan terencana untuk mencapai publisitas dan citra yang positif (Ruslan 2002 : 66) Sering terjadi kerancuan pengertian atau istilah kampanye yang disamakan dengan propaganda, dan secara operasional keduanya adalah sama-sama melakukan kegiatan berkomunikasi yang terencana untuk mencapai tujuan tertentu dan berupaya mempengaruhi khalayak sebagai target sasarannya. Menurut Rogers dan Storey dalam Ruslan (2007:23) kampanye “sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk menciptakan dampak tertentu terhadap sebagian besar khalayak sasaran secara berkelanjutan dalam periode waktu tertentu”.

3 Aspek Sasaran Dalam Kampanye PR
Dari pengertian arti kampanye diatas menurut Ostergaard dalam Venus (2007:10) menyebut ketiga aspek tersebut dengan istilah “3A
1. Awwarness
            Pada tahap pertama kegiatan kampanye biasanya diarahkan untuk menciptakan perubahan pada tataran pengetahuan atau kognitif. Pada tahap ini pengaruh yang diharapkan adalah munculnya kesadaran, berubahnya keyakinan atau meningkatnya pengetahuan khalayak tentang isu tertentu.
2. Attitude
            Tahapan berikutnya diarahkan pada perubahan dalam ranah sikap atau attitude. Sasarannya adalah untuk memunculkan simpati, rasa suka, kepedulian atau keberpihakan khalayak pada isu-isu yang menjadi tema kampanye.
3. Actions
            Tahap terakhir kegiatan kampanye ditujukan untuk mengubah perilaku khalayak secara konkrit dan terukur. Tahap ini menghendaki adanya tindakan tertentu yang dilakukan oleh sasaran kampanye.

Teknis Melakukan kampanye
1. Analisis Situasi, Humas harus mampu mencermati apa masalah yang terjadi dalam kehidupan publik. Misalnya kampanye ‘ketertiban berlalu lintas’, maka pada tahap pertama harus dikemukakan berbagai masalah yang terjadi, berkenaan dengan berbagai pelanggaran lalu lintas; apa penyebabnya dan akibat-akibat yang muncul karena masalah itu.
2. Penetapan Tujuan, Penetapan tujuan kampanye sangat berkaitan dengan pemaparan masalah sehingga harus diarahkanuntuk menjawab persoalan. Setelah menetapkan secara jelas tujuan, maka yangtidak kalah penting adalah menegaskan, siapa yang akan menjadi sasaran darikampanye itu.
 3. Menetapkan Khalayak, Dalam contoh ketertiban berlalu-lintas, targetnya jelas, yakni pada pihak yang memiliki kepentingan dengan lalu lintas: pengemudi, pemilik kendaraan umum, polisi lalu lintas, para instruktur kursus mengemudi, penjual mobil, pejalan kaki, dan sebagainya. Singkatnya adalah semua pihak yang memiliki kepentingan dengan persoalan ini.
4. Memilih media komunikasi atau penetapan strategi komunikasi kepada khalayak. Humas bisa memilih media konvensional, media sosial atau berbagai jenis media lainnya yang mampu menyebarkan informasi secara efektif kepada target khalayak. Dengan demikian, informasi yang disajikan melalui media dimaksud dapat dipahami dengan baik, dan bisa memberikan pemahaman pada khalayak.
5. Penetapan Anggaran, Seberapa besar anggaran yang dikeluarkan sangat bertalian dengan seluruh komponen kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya.
6. Pengukuran Hasil. Proses kampanye kehumasan harus dievaluasi dengan menggunakan berbagai cara: misalnya dengan melakukan survey singkat kepada khalayak, melakukan wawancara terhadap pihak yang terlibat, melakukan observasi, atau melalui interpretasi terhadap data statistik yang terkait dengan proses kegiatan yang dilakukan. Melalui proses pelaksanaan kegiatan yang teratur dan konsisten, maka kegiatan kampanye kehumasan itu bisa memberikan manfaat maksimal.





Referensi