Selasa, 12 Desember 2017

Berbagai macam Fenomena dan Bentuk Profesional Public Relations

Fenomena dan Profesional Public Relations
            Berbagai masalah yang dihadapi perusahaan atau instansi di era globalisasi sekarang berbagai macam dan sangat kompleks, bukan hanya berasal dari dalam perusahaan tapi juga banyak factor eksternal yang bisa mempengaruhi citra positif sebuah perusahaan atau instansi. oleh sebab itu peran humas pun harus lebih kuat dalam menyikapi masalah yang terjadi, praktisi humas harus dituntut professional dan memiliki kemampuan atau skill yang cukup dalam menanggapi setiap permasalahan yang menimpa perusahaan atau instansi nya. berikut berbagai bentuk fenomena-fenomena yang mempengaruhi aktivitas PR :
A. Fenomena yang Mempengaruhi Aktivitas PR
a. Arus globalisasi. Fenomena globalisasi terjadi sebagai perkembangan peradaban manusia, yang dipicu oleh kemajuan tekriologi komunikasi. Waktu dan jarak bukan lagi masalah yang signifikan. Di sisi lain, penguasaan informasi pun menjadi sebuah kata kunci yang turut mendorong persaingan. Siapa yang menguasai informasi, ‘dia’ akan menang dalam persaingan. Mau tidak mau, praktìsi PR harus memahami globalisasi sebagai fenomena yang sangat mempengaruhi aktivitasnya.
b.Pperubahan sistem politik. Sistem politik Indonesia yang makin demokratĂ­s, membawa pengaruh besar bagi aktivitas PR
c. Perubahan sistem media massa. Media massa, termasuk organisasi kewartawanan mengalami perubahan signifikan sejak dikeluarkannya UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. UU Pers memungkinkan media massa tumbuh bebas, bahkan sangat pesat dan tanpa intervensi pemerintah. Profesi jurnalis pun mendapatkan Kebebasan sepenuhnya. Selain PWI, organisasi kewartawanan  makin banyak bermunculan seperti AJI, IJTI, PFI, dan sebagainya. Fenomena tersebut mendorong PR harus mampu membuat pemetaan dan menjalin relasi baik dengan berbagal jurnalis pada setiap media.
d. Fenomena perkembangan media sosial. Efek dan perkembangan media sosial tersebut membuat arus informasi makin mudah dan cepat bergulir. Fenomena tu memaksa praktisi PR untuk mampu memantau arus opini publik, yang mungkin tidak mencuat pada media konvensional, Banyak informasi penting dan bahkan mungkin lebih faktual untuk kehidupan suatu organisasi, justru muncul dan berkembang melalui media sosial.
e. Fenomena kebebasan informasi. Dengan diberlakukannya UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) maka begitu banyak bal yang harus diubah dalam pengelolaan badan publik atau organisasi. Para PR di berbagai badan publik tidak boleh menutup informasi kepada masyarakat. Betapa tidak, menurut UU itu, semua informasi Publik-- selain yang dikecualikan berdasarkan UU KIP—harus dibuka. Hal ini tentu menuntut praktisi PR untuk mampu menyampaikan informasi tersebut kepada publik.
B. Profesional Public Relatuions
            Membentuk profesionalisme seorang public relation (PR) memerlukan proses pendidikan yang juga harus dilakukan secara profesional sebab PR telah menjadi sesuatu yang bermakna. Terlebih, masyarakat di negara-negara industri maju sudah sejak lama menyadari akan kebutuhan dan eksistensi serta profesionalisme public relation ini.
Perjalanan menuju status profesi PR membutuhkan beberapa indikator yang harus dipenuhi, yakni adanya dasar etika dan kewajiban moral, adanya pendidikan khusus yang sifatnya unik, serta adanya pengakuan komunitas mengenai layanan yang unik dan mendasar selain juga otonomi dalam praktik dan penerimaan tanggung jawab pribadi oleh praktisi.          
Seorang praktisi PR dalam menjalankan tugasnya dituntut profesional, untuk itu seorang praktisi PR harus terlatih dan terbiasa dalam menghadapi masalah yang dialami perusahaannya, oleh sebab itu seorang praktisi PR dikatakan profesional harus memiliki :
a. Memiliki  skill dan kemampuan
Kemampuan ini bisa dimiliki oleh seorang PR ketika mereka masih menempuh study, atau bahkan bisa dimiliki dari hasil pengalaman-pengalaman seblumnya yang sudah pernah diterapkan.
b. Mempunyai kode etik
Mempunyai kode etik merupakan standar moral bagi setiap profesi, baik profesi formal, tertulis dan normative.
c.  Memiliki tanggung jawab profesi dan integritas pribadi yang tinggi
Seorang PR profesional seharusnya memiliki integritas pribadi yang tinggi. Baik terhadap dirinya sendiri sebagai pekerja PR/Humas, maupun terhadap publik, pimpinan, organisasi perusahaan, dan juga penggunanaan media massa, sehingga bisa menjaga nama baik perusahaan.
d  Memiliki jiwa pengabdian kepada public atau masyarakat
Seorang PR yang profesional akan mampu mengabdi sepenuhnya kepada masyarakat atau publiknya. Di dalam hal ini, PR lebih mengutamakan kepentingan publik/masyarakat dibandingkan dengan kepentingan dirinya sendiri. Setiap krputusan yang diambil oleh seorang PR merupakan keputusan yang kegunaannya untuk keperluan publik/masyarakat, bangsa, bahkan negara.






Referensi

Apa Saja Profil, Macam-macam dan Pola Komunikasi PR

Profil, Macam-macam dan Pola Komunikasi PR
            Sebuah perusahaan atau instansi pasti memiliki bagian public relations di dalamnya, bagian humas atau public relations memiliki peran penting di perusahaan karena baik buruknya citra sebuah perusahaan itu tergantung bagaimana penerapan strategi komunikasi yang dilakukan oleh humas di perusahaan atau instansi tersebut. Humas terdiri berbagai macam, baik itu untuk humas dalam perusahaan atau instansi pemerintahan, selain itu humas juga memiliki profil atau bagian tersendiri sesuai dengan tugas kehumasan nya. dalam menjalankan tugasnya humas pun harus menggunakan metode pola komunikasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan komunikasinya. berikut pembahasan mengenai profil, macam-macam dan pola komunikasi humas :
A. Profil Humas
 1. Humas yang Melembaga/In-House PR
            Organisasi humas dalam perusahaan diistilahkan sebagai humas yang melembaga/state of being. Sebagai bidang yang melembaga, berarti memiliki seseorang yang memimpin, memiliki staf, dan memiliki ruang/tempat dan sarana/prasarana pendukungnya. Jabatan-jabatan yang ada dalam bagian humas memiliki tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang jelas. Pengorganisasian di sini adalah tentang struktur, wewenang, tugas, dan tanggung jawab. Humas yang melembaga lebih dikenal dengan istilah bagian/departemen/divisi humas/PR communication.
2. Humas Agency/Ekstern PR
Ekstern PR adalah sebuah lembaga/perusahaan independen yang berbadan hukum dan bergerak dalam layanan dibidang humas. PR ekstern meliputi:
a. PR Full Service, Sebuah perusahaan tersendiri yang bergerak dalam bisnis pelayanan kehumasan, meliputi kegiatan konseling dan sekaligus pelayanan konsultasi dan pelayanan yang mereka berikan kepada klien (perseorangan/perusahaan PR tersebut).
b. PR Consultant, yaitu perusahaan PR yang bergerak dalam Layanan konsultasi kehumasan. Pelayanan kosultan yang diberikan tergantung dari kompetensi yang dimiliki para konsultannya.
3. Event Organizer
            Event Organizer, adalah perusahaan yang melayani jasa sebagai pelaksana sebuah event/kegiatan yang berhubungan dengan publik. Perusahaan ini cenderung spesialis, misalnya:
Launching product, Pameran/ exhibition, Pertemuan-pertemuan (seminar, lokakarya, konvensi, konferensi), Jumpa pers/press conference, press tour, dan sebagainya, Show dan kontes-kontes (Modul Pelatihan Humas, Yuliati et al:2014)

B. Macam-Macam Humas
1. Humas Pemerintahan
            Humas pemerintahan pada dasarnya tidak bersifat politis. Bagian humas di institusi pemerintahan dibentuk untuk mempublikasikan atau mempromosikan kebijakan-kebijakan mereka. Tugas pemerintah memang sangat berat, sebab masyarakat yang dihadapi terdiri dari berbagai publik dengan kepentingan yang sangat kompleks pula
2. Humas Industri dan Bisnis
Humas industri tidak dapat dilepaskan dari prinsip ekonomi, Sebab industri dan bisnis memiliki orientasi pada keuntungan (profit oriented). Dengan demikian, humas industri memiliki suatu daftar prioritas, sehingga sumber daya yang tersedia dapat disediakan seefisien mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Humas industry dan bisnis ini berpengaruh terhadap kehidupan dan operasional industri dan perdagangan misalnya berkaitan dengan citra positif perusahaan di mata konsumen, mengadakan komunikasi dengan pihak internal perusahaan seperti para karyaan dan steakholders.

C. Pola Komunikasi PR
            Berdasarkan kebutuhan akan berkomunikasi, maka terdapat beberapa pola komunikasi. Beberapa sarjana Amerika membagi pola komunikasi menjadi 5 yaitu: ”Komunikasi Antarpribadi (interpersonal Communication, Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communication), Komunikasi Organisasi (Organizational Communication), Komunikasi Massa (Mass Communication), dan Komunikasi Publik (Public Communication).
Selain itu ada pula beberapa macam pola komunikasi yaitu :
a)  Pola Komunikasi Primer
Pola komunikasi primer merupakan suatu proses penyampaian oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu simbol sebagai media atau saluran. Dalam pola ini terbagi menjadi dua lambang verbal dan nirverbal. Lambang verbal yaitu bahasa, yang paling sering digunakan karena bahasa mampu mengungkapkan pikiran komunikator. Sedangkan lambang nirverbal yaitu lambang yang di gunakan dalam berkomunikasi yang bukan bahasa, namun merupakan isyarat dengan menggunakan anggota tubuh antara lain seperti : kepala, mata, bibir, tangan dan sebagainya.
b)  Pola Komunikasi Sekunder
Pola komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama. Komunikator yang menggunakan media kedua ini karena yang menjadi sasaran komunikasi yang jauh tempatnya, atau banyak jumlahnya. Dalam proses komunikasi secara sekunder ini semakin lama akan semakin efektif dan efisien, karena didukung oleh teknologi informasi yang semakin canggih.
c)   Pola Komunikasi Linear
Linear di sini mengandung makna lurus yang berarti perjalanan dari satu titik ketitik yang lain secara lurus, yang berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Jadi, dalam proses komunikasi ini biasanya terjadi dalam komunikasi tatap muka (face to face), tetapi juga adakalanya komunikasi bermedia
d)   Pola Komunikasi Sirkular
Sirkular secara harfiah berati bulat, bundar, atau keliling. Dalam proses sirkular itu terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan kekomunikator, sebagai penentu utama keberhasilan komunikasi. Dalam pola komunikasi seperti ini, proses komunikasi berjalan terus yaitu adanya umpan balik antara komunikator dan komunikan.

Referensi



Selasa, 05 Desember 2017


Media Public Relations

            Peran media social di era millennium sangat besar dalam mempengaruhi pola pikir masyarakat luas, hal tersebut dikarenakan mudahnya masyarakat mendapatkan akses segala macam informasi hanya dari aplikasi smartphone, televisi atau media cetak lainnya.

 melalui media siapapun bisa dengan mudahnya membagikan konten berupa tulisan, gambar, video dan suara yang berisi informasi baik itu hanya menunjukan eksistensi penggunanya atau bahkan menjadi cara penyampaian pesan yang berkaitam dengan bisnis. Karena kemudahan akses informasi yang bisa dengan mudah dihat oleh masyarakat, maka banyak pelaku bisnis ataupun instansi-instansi yang berkaitan dengan masyarakat luas melibatkan media dalam kegiatannya, termasuk juga para praktsi humas. Praktisi humas atau public relation memfaatkan media sebagai sarana mendukung komunikasi baik media komunikasi bagi internal perusahaan maupun bagi  eksternal atau pihak masyarakat. Agar lebih mengetahui peran media bagi humas maka kita harus tahu terlebih dahulu apa itu tujuan humas, apa saja jenisnya dan bagaimana pemilihan media yang tepat sebgai sarana komunikasi public relations.
Adapun tujuan dari media humas atau public relations sebagai perikut :
1. Sarana promosi
2. Media pemasaran
3. Komunikasi berkesinambungan
4. Meningkatkan kepercayaan publik
5. Meningkatkan citra perusahaan/organisasi
Jenis Media Humas
Menyadari potensi yang dimiliki oleh media massa dalam menyebarkan iinformasi dan berita, maka diperlukan pemikiran tentang pemilihan media dan informasi, sehingga segala kegiatan promosi yang dilakukan oleh Humasbenar-benar dapat dipubliasikan secara efektif efektif dan efsien.

 Berikut jenis media yang seri digunakan oleh praktisi humas bagi pihak Eksternal/ public
1. Media cetak ( surat kabar,  majalah dll)
2. Online Media (Website, blog, media social,  email dll)
3. Broadcasting Media (radio, televisi dll)
4. Spesial event (seminar , workshops dll)
5. Autdoor Media / Media luar Ruang (spanduk, papan reklame, poster dll)

Pemilihan media PR Untuk Pihak Eksternal Kelebihan dan Kekurangannya
pemilihan media berita adalah persiapan dan penyiaran berita pada media cetak dan elektronik. Bagi kelompok publik kecil dalam suatu organisasi dipilih media komunikasi (jurnal) internal yang berjenis-jenis secara teratur dengan beberapa variasi. Perlu diperhitungkan di sini cakupan pembaca, kuantitas, frekuensi, kebijakan, judulnya, dan proses percetakannya, gaya dan format, langgangan, iklan, serta distribusinya. berikut jenis-jenis media yang digunakan bagi pihak eksternal :
a. Radio,  kelebihannya penyampaian gagasan sederhana dan langsung, teks luwes (mudah dikoreksi), punya publik khusus; kekurangan : dialog dan materi kurang variasi, fakta tak bisa dibeberkan lengkap, melelahkan (suara dan waktu terbatas), hanya bisa didengarkan sekali.
b. Siaran televisi; kelebihan : jangkau masyarakat luas, audio visual kekurangan : biaya mahal, komunikasi satu arah, siaran cepat, daya beli mahal
c. Surat kabar kelebihan: menjangkau semua lapisan masyarakat, murah; kekurangan: penyampaian berita tergantung penulis (isi sudah benar? mudah dimengerti  dan dicerna awam? dll)
d. Media Online kelebihan: Trending, terutama media sosial & blog, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, menjangkau seluruh dunia (internasional), dapat diakses kapan dan di mana saja, terdokumentasi. kekurangan: butuh akses internet, SDM bidang media online masih terbatas, butuh keterampilan khusus mengelola & menulis di media online (internet).*
selain digunakan sebagai sarana penghubung ke pihak eksternal atau khalayak umum, media humas juga digunakan bagi pihak internal perusahaan seperti  karyawan, pemegang saham, dan hubungan industrial.

Bagi pihak Internal perusahaan media yang di gunakan adalah :
1. Buletin internal, Buletin internal biasanya pihak manajemen yang menetukan, informasi yang dimuat umunya berkaitan dengan informasikan kebijakan, perkembangan bisnis perusahaan dan targetnya, serta memuat wacana atau opini dari stakeholder perusahaan.
2. Papan pengumuman , papan pengumuman digunakan untuk menempelkan lembaran informasi yang kurang lebih sama dengan isi dari bulletin, hanya saja keberadaan papan informasi lebih mempermudah pembaca dan dapat dilihat banyak orang.
3. kunjungan berkala, dan tatap muka. kunjungan berkala atau tatap muka juga dianggap penting karena dengan berinteraksi langsung diharap kan memberikan kesan lebih personal dan juga dapat melihat dan merespon langsung masalah tentang perusahaan kepada para karyawan atau steakholder lainnya.




Referensi




Kampanye Public Relations

            Kampanye sering kita dengar sehari-hari apalagi pada saat musim pemilihan umum pada kegiatan pesta demokrasi kita, tapi arti kata kampanye sebenarnya bukan hanya untuk kegiatan politik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kampanye adalah gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dan sebagainya. Dari arti kampanye tersebut kita lihat ada kata-kata “mengadakan aksi” nah mengadakan aksi seperti apa yang dimaksud ? dalam arti kata kampanye itu sendiri tidak disebutkan secara khusus mangadakan aksi untuk apa jadi secara otomatis tentusaja makna dari kata mengadakan aksi itu bersifat umum. 

Dalam public relations arti kampanye dapat di bedakan dalam arti sempit dan luas.
Kampanye PR dalam arti sempit, Bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan khalayak sasaran (target audience) untuk merebut perhatian serta menumbuhkan persepsi atau opini yang positif terhadap suatu kegiatan dari suatu lembaga atau organisasi (corporate activities ) agar tecipta suatu kepercayaan dan citra yang baik dari masyarakat melalui penyampaian pesan secara intensif dengan proses komunikasi dengan jangka waktu tertentu yang berkelanjutan.
Kampanye PR dalam arti luas, Dalam arti umum atau luas, kampanye PR tersebut memberikan penerangan terus-menerus serta pengertian dan memotivasi masyarakat terhadap suatu kegiatan atau program tertentu melalui proses dan teknik komunikasi yang berkesinambungan dan terencana untuk mencapai publisitas dan citra yang positif (Ruslan 2002 : 66) Sering terjadi kerancuan pengertian atau istilah kampanye yang disamakan dengan propaganda, dan secara operasional keduanya adalah sama-sama melakukan kegiatan berkomunikasi yang terencana untuk mencapai tujuan tertentu dan berupaya mempengaruhi khalayak sebagai target sasarannya. Menurut Rogers dan Storey dalam Ruslan (2007:23) kampanye “sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk menciptakan dampak tertentu terhadap sebagian besar khalayak sasaran secara berkelanjutan dalam periode waktu tertentu”.

3 Aspek Sasaran Dalam Kampanye PR
Dari pengertian arti kampanye diatas menurut Ostergaard dalam Venus (2007:10) menyebut ketiga aspek tersebut dengan istilah “3A
1. Awwarness
            Pada tahap pertama kegiatan kampanye biasanya diarahkan untuk menciptakan perubahan pada tataran pengetahuan atau kognitif. Pada tahap ini pengaruh yang diharapkan adalah munculnya kesadaran, berubahnya keyakinan atau meningkatnya pengetahuan khalayak tentang isu tertentu.
2. Attitude
            Tahapan berikutnya diarahkan pada perubahan dalam ranah sikap atau attitude. Sasarannya adalah untuk memunculkan simpati, rasa suka, kepedulian atau keberpihakan khalayak pada isu-isu yang menjadi tema kampanye.
3. Actions
            Tahap terakhir kegiatan kampanye ditujukan untuk mengubah perilaku khalayak secara konkrit dan terukur. Tahap ini menghendaki adanya tindakan tertentu yang dilakukan oleh sasaran kampanye.

Teknis Melakukan kampanye
1. Analisis Situasi, Humas harus mampu mencermati apa masalah yang terjadi dalam kehidupan publik. Misalnya kampanye ‘ketertiban berlalu lintas’, maka pada tahap pertama harus dikemukakan berbagai masalah yang terjadi, berkenaan dengan berbagai pelanggaran lalu lintas; apa penyebabnya dan akibat-akibat yang muncul karena masalah itu.
2. Penetapan Tujuan, Penetapan tujuan kampanye sangat berkaitan dengan pemaparan masalah sehingga harus diarahkanuntuk menjawab persoalan. Setelah menetapkan secara jelas tujuan, maka yangtidak kalah penting adalah menegaskan, siapa yang akan menjadi sasaran darikampanye itu.
 3. Menetapkan Khalayak, Dalam contoh ketertiban berlalu-lintas, targetnya jelas, yakni pada pihak yang memiliki kepentingan dengan lalu lintas: pengemudi, pemilik kendaraan umum, polisi lalu lintas, para instruktur kursus mengemudi, penjual mobil, pejalan kaki, dan sebagainya. Singkatnya adalah semua pihak yang memiliki kepentingan dengan persoalan ini.
4. Memilih media komunikasi atau penetapan strategi komunikasi kepada khalayak. Humas bisa memilih media konvensional, media sosial atau berbagai jenis media lainnya yang mampu menyebarkan informasi secara efektif kepada target khalayak. Dengan demikian, informasi yang disajikan melalui media dimaksud dapat dipahami dengan baik, dan bisa memberikan pemahaman pada khalayak.
5. Penetapan Anggaran, Seberapa besar anggaran yang dikeluarkan sangat bertalian dengan seluruh komponen kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya.
6. Pengukuran Hasil. Proses kampanye kehumasan harus dievaluasi dengan menggunakan berbagai cara: misalnya dengan melakukan survey singkat kepada khalayak, melakukan wawancara terhadap pihak yang terlibat, melakukan observasi, atau melalui interpretasi terhadap data statistik yang terkait dengan proses kegiatan yang dilakukan. Melalui proses pelaksanaan kegiatan yang teratur dan konsisten, maka kegiatan kampanye kehumasan itu bisa memberikan manfaat maksimal.





Referensi


Selasa, 28 November 2017

PERENCANAAN PROGRAM PUBLIC RELATIONS
Sebagai pemegang fungsi manajemen yang membentuk citra positif perusahaan dengan menjalankan komunikasi yang baik dengan masyarakat luas maka seorang praktisi public relations di tuntut untuk melakukan tugasnya dengan baik dan maksimal. Semua kegiatan harus terencana dengan baik agar  program yang akan dijalankan dapat terlaksana tanpa ada kendala, kegiatan perencanaan pada umumnya dilakukan dengan melihat situasi yang ada, untuk mengetahui situasi yang ada kita harus memiliki data atau informasi tentang kegiatan yang akan kita lakukan, dengan demikian proses perencanaan akan dapat dilakukan dengan tepat.
dalam perencanaan program public relation terlebih dahulu kita lakukan bagaimana model dan prosesnya.
adapun model perencanaannya adalag sebagai berikut :
a. Pengenalan Situasi
b. Penetapan tujuan
c. Defnisi Khalayak
d. Pemilihan media dan teknik-teknik humas
e. Perencanaan anggaran
f. Hasil pengukuran
sedangkan proses yang harus kita lakukan menurut (Cutlip & Center (Ruslan, 2006: 148) menyatakan bahwa proses perencanaan program kerja melalui proses empat tahapan atau langkah-langkah pokok yang menjadi landasan acuan untuk pelaksanaan program kerja kehumasan adalah sebagai berikut :
1.        Penelitian dan Mendengarkan (Research-Listening)
Dalam tahap ini, penelitian yang dilakukan berkaitan dengan opini, sikap dan reaksi dari mereka yang berkepentingan dengan aksi dan kebijaksanaan-kebijaksanaan suatu organisasi. Setelah itu baru dilakukan pengevaluasian fakta-fakta, dan informasi yang masuk untuk menentukan keputusan berikutnya. Pada tahap ini akan ditetapkan suatu fakta dan informasi yang berkaitan langsung dengan kepentingan organisasi, yaitu What’s our problem? (Apa yang menjadi problem kita).
2.        Perencanaan dan mengambil Keputusan (Planning-Decision)
Dalam tahap ini sikap, opini, ide-ide dan reaksi yang berkaitan dengan kebijaksanaan serta penetapan program kerja organisasi yang sejalan dengan kepentingan atau keinginan-keinginan pihak yang berkepentingan mulai diberikan: Here’s what we can do? (Apa yang dapat kita kerjakan).
3.        Mengkomunikasikan dan Pelaksanaan (Communication-Action)
Dalam tahap ini informasi yang berkenaan dengan langkah-langkah yang akan dilakukan dijelaskan sehingga mampu menimbulkan kesan-kesan yang secara efektif dapat mempengaruhi pihak-pihak yang dianggap penting dan berpotensi untuk memberikan dukungan sepenuhnya: Here’s what we did and why? (Apa yang telah kita lakukan dan mengapa begitu).
4.        Mengevaluasi (Evaluation)
Pada tahapan ini, pihak Public Relation/Humas mengadakan penilaian terhadap hasil-hasil dari program-program kerja atau aktivitas Humas yang telah dilaksanakan. Termasuk mengevaluasi keefektifan dari teknik-teknik manajemen dan komunikasi yang telah dipergunakan: How did we do ?(Bagaimana yang telah kita lakukan).

Dalam aplikasinya, keempat tahap tersebut dilakukan secara terus-menerus. jika proses sampai pada tahap empat yakni evaluasi, maka hasil evaluasi ini akan menjadi tahap satu kembali untuk proses berikutnya, begitu seterusnya. Adapun proses operasional Public Relations sebagai berikut:
Pertama, tahap Defining Public Relations Problems, dalam tahap ini, berarti praktisi Public Relations harus dapat menetapkan permasalahan-permasalahan yang menyangkut kegiatan-kegiatan Public Relations. Pada tahap ini operasionalisasinya meliputi langkah-langkah dalam upaya mencari dan mengumpulkan data tentang hal-hal yang dilakukan Public Relations dalam bentuk: 1. Opini publik, 2. Sikap publik, dan 3. Perilaku Publik. Untuk mengetahui hal tersebut praktisi Public Relations  dapat melakukannya melalui dua macam metode yaitu metode formal dan metode informal.
Kedua, tahap Planning and Programming, tahap ini sangat menentukan suksesnya pekerjaan Public Relations secara keseluruhan. Oleh karena itu dalam melakukan kegiatan planning perlu diperhatikan secara matang. Dalam rangka penyusunan planning ini, kita berpijak pada data dan fakta tadi (yang telah diperoleh melalui tahapan fact finding) dimana data dan fakta tersebut harus apa adanya tanpa interprestasi Public Relations Officers.
Ketiga, tahap Taking Action and Communicating, merupakan tahapan pelaksanaan dari kegiatan Public Relationssesuai dengan fakta dan data yang telah dirumuskan dalam bentuk perencanaan. Dalam hal ini seorang Public Relations Officers dalam melakukan kegiatan komunikasi sebaiknya mengacu dan sesuai dengan perencanaan.
Keempat, Evaluating the Program terakhir Public Relations Officers setelah melakukan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, yaitu mengetahui apakah pelaksanaannya berdasarkan rencana atau tidak dan apakah perlu dirubah atau tidak, apa yang telah dievaluasi. Dalam hal ini tujuan utama dari penilaian ialah untuk mengetahui apakah kegiatan Public Relations benar-benar dilaksanakan menurut rencana berdasarkan hasil penelitian atau tidak. Penilaian penting untuk mengetahui sampai dimana kelancaran kegiatanPublic Relations yang telah berlangsung.

Tahap evaluasi dilakukan antara lain :
a.       Mengevaluasi dan mengukur keberhasilan kegiatan yang telah dilaksanakan.
b.      Mengevaluasi manfaat kegiatan yang telah dilaksanakan, dalam arti seberapa besar kegiatan ini memberikan manfaat baik bagi organisasi maupun bagi publiknya.
c.       Mengevaluasi kekurangan atau kelebihan (keuntungan atau kerugian) dari program kegiatan yang telah dilaksanakan baik bagi organisasi atau perusahaan maupun bagi publiknya.

d.      Mengevaluasi kegiatan yang sifatnya menyimpang dari rencana, sehingga dapat dicatat apa yang harus diperbaikinya, sehingga pada tahap pelaksanaan prosesPublic Relations berikutnya diharapkan akan terlaksana secara lebih sempurna (Yulianita, 2007: 121-155). 

REFERENSI



Penentuan Target dan Strategi Public Relations by AKP

Penentuan  Target dan Strategi  Public Relations
Setiap kegiatan yang kita lakukan harus terencana dengan jelas agar apa yang kita inginkan dari kegiatan tersebut dapat tercapai sesuai target, untuk mencapai target perlu adanya strategi-strategi tertentu. oleh sebab itulah perlu adanya perencanaan Target dan Strategi, lalu apa itu target dan stragegi ?
        
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia target adalah sasaran (batas ketentuan dan sebagainya) yang telah ditetapkan untuk dicapai (https://kbbi.web.id/target), sedangkan strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus (https://kbbi.web.id/strategi). Target dan Strategi adalah dua hal penting dan tidak bisa dipisahkan, karena setiap kegiatan pasti punya target dan target tersebut bisa tercapai melalui strategi-strategi yang tepat.
Jika dikaitkan dengan public relation penentuan target dan strategi merupakan bagian yang sangat penting dan dapat dikatakan menjadi hal yang wajib dalam yang dijalankan oleh para praktisi humas. kegiatan ini mencakup hal-hal seperti menetapkan tujuan perusahaan yang akan dicapai, memberikan pertimbangan alternatif-alternatif lain dalam menjalankan suatu kegiatan, menilai dan memperhitungkan suatu resiko yang akan diterima dan manfaat dari masing-masing alternatif yang dipilih,memutuskan suatu keputusan sebagai suatu arah tindakan, menetapkan besarnya anggaran, serta mendapatkan persetujuan dan dukungan yang dibutuhkan dari pihak manajemen perusahaan.
Mengapa Perencanaan Kerja Public Relation itu penting ?
1. Untuk menetapkan target yang akan di capai bagi praktisi PR yang nantinya akan menjadi tolok ukur atas segenap hasil yang di dapat.
2. Untuk memperhitungkan jumlah jam kerja dan berbagai biaya yang diperlukan
3. Untuk memilih prioritas-prioritas yang paling penting guna menentukan: jumlah program dan waktu yang diperlukan guna melaksanakan segenap program PR yang telah diprioritaskan tersebut
4. Untuk menentukan kesiapan atau kelayakan pelaksanaan berbagai upaya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai jumlah dan kualitas: personel yang ada, daya dukung dari berbagai peralatan fisik seperti alat-alat kantor mesin cetak, kamera, kendaraan serta anggaran dana yang tersedia.
Bagaimana menentukan Target dalam PR ?
Penggiatan tujuan dan target dari rangkaian perencanaan dalam metode Circle PR Programming & Communication yang akan dicapai tersebut bisa berupa “citra” atau “kepercayaan” dari publik sasaran atau masarakat umum.
1. Target dan sasaran pokok tersebut harus realistis, jelas ditujukan berdasarkan segmentasi pasarnya yakni usia, jenis kelamin, pekerjaan dan keadaan sosial konsumen agar target tersebut dapat tercapai secara realistis sesuai dengan harapan perusahaan.
2. Terkonsep dengan baik serta bukan khayalan dan dapat diukur, baik secara kualitas maupun kuantitas, bermanfaat bagi pihak perusahaan maupun konsumen atau khalayak.
3. Target yang akan dibuat tersebut dapat mengikat, baik untuk kepentingan perusahaan, publik internal maupun publik eksternal dan hasilnya dapat memberikan citra positrif pada perusahaan.
4. Memberikan batas  jangka waktu pencapaian dan jangka waktu berlaku target tersebut, dengan demikian praktisi PR melakukan prioritas kinerjanya sesuai tempo waktu yang diberikan.
Bagaimana Menjalankan Strategi Public Relations ?
Pengertian strategi public relations mennurut Ahmad S. Adnanputra, Presiden Institut Bisnis dan Manajemen Jayakarta adalah “ Alternatif optional yang dipilih untuk ditempuh guna menapai tujuan public relations dalam kerangka suatu rencana public relations (public relations plan) (Ruslan, 2014:134)
1.    Strategi Operasional
Melalui pelaksanaan program humas yang dilakukan dengan program kemasyarakatan (sociologi approach), melalui mekanisme sosial kultural dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dari opini publik atau kehendak masyarakat terekam pada setiap berita atau surat pembaca dan lain sebagainya yang dimuat di berbagai media masa.
2.   Pendekatan persuasif dan edukatif
Fungsi humas adalah menciptakan komunikasi dua arah (timbal balik) dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada pihak publiknya yang bersifat mendidik dan memberikan penerangan, maupun dengan menggunakan pendekatan persuasif, agar tercipta saling pengertian, menghargai, pemahaman, toleransi dan sebagainya.
3. Pendekatan tanggung jawab sosial humas
Menumbukan sikap tanggung jawab sosial bahwa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai tersebut bukan ditujukan untuk mengambil keuntungan sepihak dari publik sasarannya (masyarakat), namun untuk memperoleh keuntungan bersama.
4. Pendekatan kerjasama
Berupaya membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan berbagai kalangan, baik hubungan kedalam (internal relations) maupun hubungan keluar (eksternal relations) untuk meningkatkan kerjasama. Humas berkewajiban memasyarakatkan misi instansi yang diwakilkannya agar diterima aatau mendapat dukungan dari masyarakat (publik sasarannya).
5. Pendekatan koordinatif dan integratif
Untuk memperluas peranan PR di masyarakat, maka fungsi humas dalam arti sempit hanya mewakili lembaga atau institusinya. Tetapi peranannya yang lebih luas adalah berpartisipasi dalam menunjang program pembangunan nasional, dan mewujudkan keetahanan nasional di bidang politik, ekonomi, sosial budaya (Poleksosbud) dan Hamkamnas. (Ruslan, 2014:143-144).

REFERENSI



Selasa, 21 November 2017

KEDUDUKAN PUBLIC RELATIONS DALAM CORPORATE
Coorporate atau dalam bahasa Indonesia yang bearti perusahaan merupakan sebuah tempat terjadinya produksi barang dan jasa yang segmentasi pasarnya seluruh lapisan masyarakat sebagai konsumen, mulai dari belia sampai lanjut usia semunya merupakan target pasar dalam sebuah perusahaan. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tak jarang sering terjadi masalah, baik masalah yang bersifat hukum maupun hanya bersifat stigma negative dari konsumen. berkenaan dengan itu maka setiap perusahaan wajib memiliki staf public relation atau staf humas sebagai pihak yang memberikan informasi, memberikan klarifikasi dan sebagainya.
            hadirnya public relation dalam sebuah corporate sebenarnya sangat sederhana yakni supaya klien atau konsumen merasa nyaman karena pada umunya konsumen dalam perusahaan pasti memiliki masalah atau kritik terhadap pelayanan yang ada, dari situlah peran PR sangat diperlukan agar para konsumen merasa terakomodasi, merasa diperhatikan tentang permasalahan atau sesuatu yang ingin mereka ketahui terhadap perusahaan tersebut.
pada umumnya tujuan dari seorang staf humas adalah menjaga reputasi perusahaan dimata konsumen, membangun citra positif serta memberikan rasa trust “kepercayaan” dari masyarakat kepada perusahaan atau masyarakat agar segala macam target perusahaan dan tujuan organisasi dapat tercapai tanpa kendala.
Pada sebuah perusahaan Pimpinan Utama dan public relations seharusnya merupakan satu unit wadah kerja. Public Relations dan pimpinan utama merupakan “dwi-tunggal” yang harmonis dalam menggerakkan perusahaannya. Pimpinan sebagai pemegang policy dan public relations sebagai penterjemah daripada policy itu.
Demikian pula dalam hal menanggapi akibat dari policy yang tengah-tengah publiknya, public relations menyampaikannya pada Pimpinan Utama perusahaan. Dengan demikian, selain sebagai penyambung lidah perusahaan atau organisasi Public Relations dapat pula dikatakan sebagai “jembatan penghubung” di antara dua macam publiknya, baik internal maupun eksternal.
Dari gambaran tersebut, maka ideallah jika kedudukan PR secara organisatoris memang harus berada sedekat mungkin dengan Pimpinan Utama, di atas bagian-bagian yang ada dalam perusahaan itu. Kedudukan tersebut diartikan sebagai fungsi menurut hierarki kerja dalam kaitannya dengan aspek komunikasi sebagai unsur-unsur yang ada dalam perusahaan, yakni dilihat secara vertikal.(Yulianita, 2007:85)
Sesuai dengan fungsinya, kedudukan PR dalam konteks yang ideal dalam suatu perusahaan atau organisasi, menduduki tempat sebagai konsultan perusahaan atau organisasi khususnya konsultan dalam hal kegiatan komunikasi manajemen perusahaan.
Namun, pada perusahaan-perusahaan yang kecil, biasanya tugas PR dipegang langsung oleh pimpinan sendiri. Misalnya toko-toko kecil, dokter-dokter yang berpraktek sendiri, konsultan-konsultan, dan perusahaan-perusahaan lainnya yang organisasinya relatif kecil.
1. Pr Dalam Kelompok Eksekusi Pembuat Keputusan (Koalisi Dominan)
Dalam suatu organisasi atau perusahaan, mungkin terdapat departemen komunikasi atau departemen PR yang kurang efektif jika fungsi dan perannya tidak terintegratif ke tingkat pimpinan manajemen puncak sebagai pengambil keputusan secara strategis atau istilah lainnya disebut posisi ‘koalisi dominan’.
Menurut Grunig (2002), peranan PR sebagai pengambil keputusan strategis pada level posisi koalisi, ditentukan juga oleh persepsi eksekutif manajemen puncak (CEO), jika penilaiannya tinggi maka posisi departemen dan eksekutif PR ditempatkan pada jajaran manajemen top koalisi dominan (top management decision making) dalam struktur organisasi perusahaan.
Namun sebaliknya, jika penilaian CEO tersebut rendah terhadap eksistensi profesional dan fungsi departemen PR, maka konsekuensinya hanya diangap sebagai praktisi yang memiliki keahlian teknis belaka dan hanya tenaga pelaksana progra kerja yang bersifat jangka pendek.
2. Pr Sebagai Koalisi Dominan
Koalisi dominan merupakan kelompok eksekutif yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam struktur organisasi untuk mengambil keputusan mengenai pencapaian tujuan, tugas, secara objective dan fungsi strategis. Keputusan koalisi dominan harus didukung dengan kaitannya masalah legalitas dokumen dan keabsahan kelembagaan yang diakui secara resmi. (Grunig : 2002)
Hasil kajian PRSA (Public Relations Society of America) pada tahun 1980 menjelaskan bahwa penjabaran PR dalam posisi koalisi dominan yaitu sebagai berikut :
Pihak PR mampu menjembatani kepentingan antara organisasi dan khalayak publik untuk saling beradaptasi satu sama lainnya.
PR berupaya agar organisasi dapat memenangkan kerja sama yang baik dengan pihak khalayak publiknya, baik internal maupun eksternal.
3. Pr Sebagai Boundary Spanner
Menurut Seitel P. Fraser (2004) PR sebagai manajer penghubung (Boundary Spanner) adalah berfungsi sebagai manajer penghubung antara organisasi dan publiknya, baik eksternal maupun internal. Dengan kata lain, satu kakinya berada dalam di dalam dan kaki lain berada di luar organisasi.
Secara umum PR sebagai Boundary Spanning secara profesional memiliki 2 kemampuan, sebagai “manajerial skill & sebagai tekhnikal skill”.
a. Kemampuan Tekhnikal Skill
Melakukan kegiatan melalui menghimpun melalui kliping, menganalisis atau mengevaluasi berita dari berbagai sumber media massa, dan hingga menciptakan media publikasi atau komunikasi organisasi.
b. Kemampuan Manajerial Skill
Memiliki kemampuan manajerial dalam hal menyusun konsepsi, perencanaan strategis, mengelola, memimpin, termasuk mengevaluasi efektivitas hingga kegiatan audit komunikasi organisasi tersebut yang merupakan nilai kontribusi boundary spanner untuk memperbaiki dn meningkatkan proses pengambilan keputusan secara efektif demi mencapai kepentingan kedua belah pihak.
Menurut Aldrich & Herker 1977 yang dikutip oleh Grunig (2002), bahwa praktisi PR sebagai Boundary Spanner adalah merupakan pelaksanaan 2 fungsi sekaligus yaitu :
1. Sebagai pengelola informasi
2. Berfungsi sebagai mewakili representasi kepentingan publik eksternal, dengan cermat memperhatikan penerimaan atau penolakan dari kebijakan strategis organisasi yang telah dibuat.
Dengan demikian, keberadaan PR harus terlibat penuh dalam program kegiatan semua tingkatan struktur organisasi, sebagai upaya untuk mengetahui pelaksanaan, arah tujuan atau sasaran managemen strategic di berbagai level manajemen prusahaan.
Departemen PR yang memiliki tujuan tersendiri, memformulasi, mengelola dnakan program melaksanakan program strategisnya dengan departemen terkait agar terhindar kesalahan kesalahan koordinasi program kegiatan dari tujuan dan sasaran utama grand strategic manajen organisasi.
REFERENSI