Selasa, 28 November 2017

PERENCANAAN PROGRAM PUBLIC RELATIONS
Sebagai pemegang fungsi manajemen yang membentuk citra positif perusahaan dengan menjalankan komunikasi yang baik dengan masyarakat luas maka seorang praktisi public relations di tuntut untuk melakukan tugasnya dengan baik dan maksimal. Semua kegiatan harus terencana dengan baik agar  program yang akan dijalankan dapat terlaksana tanpa ada kendala, kegiatan perencanaan pada umumnya dilakukan dengan melihat situasi yang ada, untuk mengetahui situasi yang ada kita harus memiliki data atau informasi tentang kegiatan yang akan kita lakukan, dengan demikian proses perencanaan akan dapat dilakukan dengan tepat.
dalam perencanaan program public relation terlebih dahulu kita lakukan bagaimana model dan prosesnya.
adapun model perencanaannya adalag sebagai berikut :
a. Pengenalan Situasi
b. Penetapan tujuan
c. Defnisi Khalayak
d. Pemilihan media dan teknik-teknik humas
e. Perencanaan anggaran
f. Hasil pengukuran
sedangkan proses yang harus kita lakukan menurut (Cutlip & Center (Ruslan, 2006: 148) menyatakan bahwa proses perencanaan program kerja melalui proses empat tahapan atau langkah-langkah pokok yang menjadi landasan acuan untuk pelaksanaan program kerja kehumasan adalah sebagai berikut :
1.        Penelitian dan Mendengarkan (Research-Listening)
Dalam tahap ini, penelitian yang dilakukan berkaitan dengan opini, sikap dan reaksi dari mereka yang berkepentingan dengan aksi dan kebijaksanaan-kebijaksanaan suatu organisasi. Setelah itu baru dilakukan pengevaluasian fakta-fakta, dan informasi yang masuk untuk menentukan keputusan berikutnya. Pada tahap ini akan ditetapkan suatu fakta dan informasi yang berkaitan langsung dengan kepentingan organisasi, yaitu What’s our problem? (Apa yang menjadi problem kita).
2.        Perencanaan dan mengambil Keputusan (Planning-Decision)
Dalam tahap ini sikap, opini, ide-ide dan reaksi yang berkaitan dengan kebijaksanaan serta penetapan program kerja organisasi yang sejalan dengan kepentingan atau keinginan-keinginan pihak yang berkepentingan mulai diberikan: Here’s what we can do? (Apa yang dapat kita kerjakan).
3.        Mengkomunikasikan dan Pelaksanaan (Communication-Action)
Dalam tahap ini informasi yang berkenaan dengan langkah-langkah yang akan dilakukan dijelaskan sehingga mampu menimbulkan kesan-kesan yang secara efektif dapat mempengaruhi pihak-pihak yang dianggap penting dan berpotensi untuk memberikan dukungan sepenuhnya: Here’s what we did and why? (Apa yang telah kita lakukan dan mengapa begitu).
4.        Mengevaluasi (Evaluation)
Pada tahapan ini, pihak Public Relation/Humas mengadakan penilaian terhadap hasil-hasil dari program-program kerja atau aktivitas Humas yang telah dilaksanakan. Termasuk mengevaluasi keefektifan dari teknik-teknik manajemen dan komunikasi yang telah dipergunakan: How did we do ?(Bagaimana yang telah kita lakukan).

Dalam aplikasinya, keempat tahap tersebut dilakukan secara terus-menerus. jika proses sampai pada tahap empat yakni evaluasi, maka hasil evaluasi ini akan menjadi tahap satu kembali untuk proses berikutnya, begitu seterusnya. Adapun proses operasional Public Relations sebagai berikut:
Pertama, tahap Defining Public Relations Problems, dalam tahap ini, berarti praktisi Public Relations harus dapat menetapkan permasalahan-permasalahan yang menyangkut kegiatan-kegiatan Public Relations. Pada tahap ini operasionalisasinya meliputi langkah-langkah dalam upaya mencari dan mengumpulkan data tentang hal-hal yang dilakukan Public Relations dalam bentuk: 1. Opini publik, 2. Sikap publik, dan 3. Perilaku Publik. Untuk mengetahui hal tersebut praktisi Public Relations  dapat melakukannya melalui dua macam metode yaitu metode formal dan metode informal.
Kedua, tahap Planning and Programming, tahap ini sangat menentukan suksesnya pekerjaan Public Relations secara keseluruhan. Oleh karena itu dalam melakukan kegiatan planning perlu diperhatikan secara matang. Dalam rangka penyusunan planning ini, kita berpijak pada data dan fakta tadi (yang telah diperoleh melalui tahapan fact finding) dimana data dan fakta tersebut harus apa adanya tanpa interprestasi Public Relations Officers.
Ketiga, tahap Taking Action and Communicating, merupakan tahapan pelaksanaan dari kegiatan Public Relationssesuai dengan fakta dan data yang telah dirumuskan dalam bentuk perencanaan. Dalam hal ini seorang Public Relations Officers dalam melakukan kegiatan komunikasi sebaiknya mengacu dan sesuai dengan perencanaan.
Keempat, Evaluating the Program terakhir Public Relations Officers setelah melakukan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, yaitu mengetahui apakah pelaksanaannya berdasarkan rencana atau tidak dan apakah perlu dirubah atau tidak, apa yang telah dievaluasi. Dalam hal ini tujuan utama dari penilaian ialah untuk mengetahui apakah kegiatan Public Relations benar-benar dilaksanakan menurut rencana berdasarkan hasil penelitian atau tidak. Penilaian penting untuk mengetahui sampai dimana kelancaran kegiatanPublic Relations yang telah berlangsung.

Tahap evaluasi dilakukan antara lain :
a.       Mengevaluasi dan mengukur keberhasilan kegiatan yang telah dilaksanakan.
b.      Mengevaluasi manfaat kegiatan yang telah dilaksanakan, dalam arti seberapa besar kegiatan ini memberikan manfaat baik bagi organisasi maupun bagi publiknya.
c.       Mengevaluasi kekurangan atau kelebihan (keuntungan atau kerugian) dari program kegiatan yang telah dilaksanakan baik bagi organisasi atau perusahaan maupun bagi publiknya.

d.      Mengevaluasi kegiatan yang sifatnya menyimpang dari rencana, sehingga dapat dicatat apa yang harus diperbaikinya, sehingga pada tahap pelaksanaan prosesPublic Relations berikutnya diharapkan akan terlaksana secara lebih sempurna (Yulianita, 2007: 121-155). 

REFERENSI



Penentuan Target dan Strategi Public Relations by AKP

Penentuan  Target dan Strategi  Public Relations
Setiap kegiatan yang kita lakukan harus terencana dengan jelas agar apa yang kita inginkan dari kegiatan tersebut dapat tercapai sesuai target, untuk mencapai target perlu adanya strategi-strategi tertentu. oleh sebab itulah perlu adanya perencanaan Target dan Strategi, lalu apa itu target dan stragegi ?
        
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia target adalah sasaran (batas ketentuan dan sebagainya) yang telah ditetapkan untuk dicapai (https://kbbi.web.id/target), sedangkan strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus (https://kbbi.web.id/strategi). Target dan Strategi adalah dua hal penting dan tidak bisa dipisahkan, karena setiap kegiatan pasti punya target dan target tersebut bisa tercapai melalui strategi-strategi yang tepat.
Jika dikaitkan dengan public relation penentuan target dan strategi merupakan bagian yang sangat penting dan dapat dikatakan menjadi hal yang wajib dalam yang dijalankan oleh para praktisi humas. kegiatan ini mencakup hal-hal seperti menetapkan tujuan perusahaan yang akan dicapai, memberikan pertimbangan alternatif-alternatif lain dalam menjalankan suatu kegiatan, menilai dan memperhitungkan suatu resiko yang akan diterima dan manfaat dari masing-masing alternatif yang dipilih,memutuskan suatu keputusan sebagai suatu arah tindakan, menetapkan besarnya anggaran, serta mendapatkan persetujuan dan dukungan yang dibutuhkan dari pihak manajemen perusahaan.
Mengapa Perencanaan Kerja Public Relation itu penting ?
1. Untuk menetapkan target yang akan di capai bagi praktisi PR yang nantinya akan menjadi tolok ukur atas segenap hasil yang di dapat.
2. Untuk memperhitungkan jumlah jam kerja dan berbagai biaya yang diperlukan
3. Untuk memilih prioritas-prioritas yang paling penting guna menentukan: jumlah program dan waktu yang diperlukan guna melaksanakan segenap program PR yang telah diprioritaskan tersebut
4. Untuk menentukan kesiapan atau kelayakan pelaksanaan berbagai upaya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai jumlah dan kualitas: personel yang ada, daya dukung dari berbagai peralatan fisik seperti alat-alat kantor mesin cetak, kamera, kendaraan serta anggaran dana yang tersedia.
Bagaimana menentukan Target dalam PR ?
Penggiatan tujuan dan target dari rangkaian perencanaan dalam metode Circle PR Programming & Communication yang akan dicapai tersebut bisa berupa “citra” atau “kepercayaan” dari publik sasaran atau masarakat umum.
1. Target dan sasaran pokok tersebut harus realistis, jelas ditujukan berdasarkan segmentasi pasarnya yakni usia, jenis kelamin, pekerjaan dan keadaan sosial konsumen agar target tersebut dapat tercapai secara realistis sesuai dengan harapan perusahaan.
2. Terkonsep dengan baik serta bukan khayalan dan dapat diukur, baik secara kualitas maupun kuantitas, bermanfaat bagi pihak perusahaan maupun konsumen atau khalayak.
3. Target yang akan dibuat tersebut dapat mengikat, baik untuk kepentingan perusahaan, publik internal maupun publik eksternal dan hasilnya dapat memberikan citra positrif pada perusahaan.
4. Memberikan batas  jangka waktu pencapaian dan jangka waktu berlaku target tersebut, dengan demikian praktisi PR melakukan prioritas kinerjanya sesuai tempo waktu yang diberikan.
Bagaimana Menjalankan Strategi Public Relations ?
Pengertian strategi public relations mennurut Ahmad S. Adnanputra, Presiden Institut Bisnis dan Manajemen Jayakarta adalah “ Alternatif optional yang dipilih untuk ditempuh guna menapai tujuan public relations dalam kerangka suatu rencana public relations (public relations plan) (Ruslan, 2014:134)
1.    Strategi Operasional
Melalui pelaksanaan program humas yang dilakukan dengan program kemasyarakatan (sociologi approach), melalui mekanisme sosial kultural dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dari opini publik atau kehendak masyarakat terekam pada setiap berita atau surat pembaca dan lain sebagainya yang dimuat di berbagai media masa.
2.   Pendekatan persuasif dan edukatif
Fungsi humas adalah menciptakan komunikasi dua arah (timbal balik) dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada pihak publiknya yang bersifat mendidik dan memberikan penerangan, maupun dengan menggunakan pendekatan persuasif, agar tercipta saling pengertian, menghargai, pemahaman, toleransi dan sebagainya.
3. Pendekatan tanggung jawab sosial humas
Menumbukan sikap tanggung jawab sosial bahwa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai tersebut bukan ditujukan untuk mengambil keuntungan sepihak dari publik sasarannya (masyarakat), namun untuk memperoleh keuntungan bersama.
4. Pendekatan kerjasama
Berupaya membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan berbagai kalangan, baik hubungan kedalam (internal relations) maupun hubungan keluar (eksternal relations) untuk meningkatkan kerjasama. Humas berkewajiban memasyarakatkan misi instansi yang diwakilkannya agar diterima aatau mendapat dukungan dari masyarakat (publik sasarannya).
5. Pendekatan koordinatif dan integratif
Untuk memperluas peranan PR di masyarakat, maka fungsi humas dalam arti sempit hanya mewakili lembaga atau institusinya. Tetapi peranannya yang lebih luas adalah berpartisipasi dalam menunjang program pembangunan nasional, dan mewujudkan keetahanan nasional di bidang politik, ekonomi, sosial budaya (Poleksosbud) dan Hamkamnas. (Ruslan, 2014:143-144).

REFERENSI



Selasa, 21 November 2017

KEDUDUKAN PUBLIC RELATIONS DALAM CORPORATE
Coorporate atau dalam bahasa Indonesia yang bearti perusahaan merupakan sebuah tempat terjadinya produksi barang dan jasa yang segmentasi pasarnya seluruh lapisan masyarakat sebagai konsumen, mulai dari belia sampai lanjut usia semunya merupakan target pasar dalam sebuah perusahaan. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tak jarang sering terjadi masalah, baik masalah yang bersifat hukum maupun hanya bersifat stigma negative dari konsumen. berkenaan dengan itu maka setiap perusahaan wajib memiliki staf public relation atau staf humas sebagai pihak yang memberikan informasi, memberikan klarifikasi dan sebagainya.
            hadirnya public relation dalam sebuah corporate sebenarnya sangat sederhana yakni supaya klien atau konsumen merasa nyaman karena pada umunya konsumen dalam perusahaan pasti memiliki masalah atau kritik terhadap pelayanan yang ada, dari situlah peran PR sangat diperlukan agar para konsumen merasa terakomodasi, merasa diperhatikan tentang permasalahan atau sesuatu yang ingin mereka ketahui terhadap perusahaan tersebut.
pada umumnya tujuan dari seorang staf humas adalah menjaga reputasi perusahaan dimata konsumen, membangun citra positif serta memberikan rasa trust “kepercayaan” dari masyarakat kepada perusahaan atau masyarakat agar segala macam target perusahaan dan tujuan organisasi dapat tercapai tanpa kendala.
Pada sebuah perusahaan Pimpinan Utama dan public relations seharusnya merupakan satu unit wadah kerja. Public Relations dan pimpinan utama merupakan “dwi-tunggal” yang harmonis dalam menggerakkan perusahaannya. Pimpinan sebagai pemegang policy dan public relations sebagai penterjemah daripada policy itu.
Demikian pula dalam hal menanggapi akibat dari policy yang tengah-tengah publiknya, public relations menyampaikannya pada Pimpinan Utama perusahaan. Dengan demikian, selain sebagai penyambung lidah perusahaan atau organisasi Public Relations dapat pula dikatakan sebagai “jembatan penghubung” di antara dua macam publiknya, baik internal maupun eksternal.
Dari gambaran tersebut, maka ideallah jika kedudukan PR secara organisatoris memang harus berada sedekat mungkin dengan Pimpinan Utama, di atas bagian-bagian yang ada dalam perusahaan itu. Kedudukan tersebut diartikan sebagai fungsi menurut hierarki kerja dalam kaitannya dengan aspek komunikasi sebagai unsur-unsur yang ada dalam perusahaan, yakni dilihat secara vertikal.(Yulianita, 2007:85)
Sesuai dengan fungsinya, kedudukan PR dalam konteks yang ideal dalam suatu perusahaan atau organisasi, menduduki tempat sebagai konsultan perusahaan atau organisasi khususnya konsultan dalam hal kegiatan komunikasi manajemen perusahaan.
Namun, pada perusahaan-perusahaan yang kecil, biasanya tugas PR dipegang langsung oleh pimpinan sendiri. Misalnya toko-toko kecil, dokter-dokter yang berpraktek sendiri, konsultan-konsultan, dan perusahaan-perusahaan lainnya yang organisasinya relatif kecil.
1. Pr Dalam Kelompok Eksekusi Pembuat Keputusan (Koalisi Dominan)
Dalam suatu organisasi atau perusahaan, mungkin terdapat departemen komunikasi atau departemen PR yang kurang efektif jika fungsi dan perannya tidak terintegratif ke tingkat pimpinan manajemen puncak sebagai pengambil keputusan secara strategis atau istilah lainnya disebut posisi ‘koalisi dominan’.
Menurut Grunig (2002), peranan PR sebagai pengambil keputusan strategis pada level posisi koalisi, ditentukan juga oleh persepsi eksekutif manajemen puncak (CEO), jika penilaiannya tinggi maka posisi departemen dan eksekutif PR ditempatkan pada jajaran manajemen top koalisi dominan (top management decision making) dalam struktur organisasi perusahaan.
Namun sebaliknya, jika penilaian CEO tersebut rendah terhadap eksistensi profesional dan fungsi departemen PR, maka konsekuensinya hanya diangap sebagai praktisi yang memiliki keahlian teknis belaka dan hanya tenaga pelaksana progra kerja yang bersifat jangka pendek.
2. Pr Sebagai Koalisi Dominan
Koalisi dominan merupakan kelompok eksekutif yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam struktur organisasi untuk mengambil keputusan mengenai pencapaian tujuan, tugas, secara objective dan fungsi strategis. Keputusan koalisi dominan harus didukung dengan kaitannya masalah legalitas dokumen dan keabsahan kelembagaan yang diakui secara resmi. (Grunig : 2002)
Hasil kajian PRSA (Public Relations Society of America) pada tahun 1980 menjelaskan bahwa penjabaran PR dalam posisi koalisi dominan yaitu sebagai berikut :
Pihak PR mampu menjembatani kepentingan antara organisasi dan khalayak publik untuk saling beradaptasi satu sama lainnya.
PR berupaya agar organisasi dapat memenangkan kerja sama yang baik dengan pihak khalayak publiknya, baik internal maupun eksternal.
3. Pr Sebagai Boundary Spanner
Menurut Seitel P. Fraser (2004) PR sebagai manajer penghubung (Boundary Spanner) adalah berfungsi sebagai manajer penghubung antara organisasi dan publiknya, baik eksternal maupun internal. Dengan kata lain, satu kakinya berada dalam di dalam dan kaki lain berada di luar organisasi.
Secara umum PR sebagai Boundary Spanning secara profesional memiliki 2 kemampuan, sebagai “manajerial skill & sebagai tekhnikal skill”.
a. Kemampuan Tekhnikal Skill
Melakukan kegiatan melalui menghimpun melalui kliping, menganalisis atau mengevaluasi berita dari berbagai sumber media massa, dan hingga menciptakan media publikasi atau komunikasi organisasi.
b. Kemampuan Manajerial Skill
Memiliki kemampuan manajerial dalam hal menyusun konsepsi, perencanaan strategis, mengelola, memimpin, termasuk mengevaluasi efektivitas hingga kegiatan audit komunikasi organisasi tersebut yang merupakan nilai kontribusi boundary spanner untuk memperbaiki dn meningkatkan proses pengambilan keputusan secara efektif demi mencapai kepentingan kedua belah pihak.
Menurut Aldrich & Herker 1977 yang dikutip oleh Grunig (2002), bahwa praktisi PR sebagai Boundary Spanner adalah merupakan pelaksanaan 2 fungsi sekaligus yaitu :
1. Sebagai pengelola informasi
2. Berfungsi sebagai mewakili representasi kepentingan publik eksternal, dengan cermat memperhatikan penerimaan atau penolakan dari kebijakan strategis organisasi yang telah dibuat.
Dengan demikian, keberadaan PR harus terlibat penuh dalam program kegiatan semua tingkatan struktur organisasi, sebagai upaya untuk mengetahui pelaksanaan, arah tujuan atau sasaran managemen strategic di berbagai level manajemen prusahaan.
Departemen PR yang memiliki tujuan tersendiri, memformulasi, mengelola dnakan program melaksanakan program strategisnya dengan departemen terkait agar terhindar kesalahan kesalahan koordinasi program kegiatan dari tujuan dan sasaran utama grand strategic manajen organisasi.
REFERENSI
KEDUDUKAN PUBLIC RELATIONS DALAM CORPORATE
Coorporate atau dalam bahasa Indonesia yang bearti perusahaan merupakan sebuah tempat terjadinya produksi barang dan jasa yang segmentasi pasarnya seluruh lapisan masyarakat sebagai konsumen, mulai dari belia sampai lanjut usia semunya merupakan target pasar dalam sebuah perusahaan. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tak jarang sering terjadi masalah, baik masalah yang bersifat hukum maupun hanya bersifat stigma negative dari konsumen. berkenaan dengan itu maka setiap perusahaan wajib memiliki staf public relation atau staf humas sebagai pihak yang memberikan informasi, memberikan klarifikasi dan sebagainya.
            hadirnya public relation dalam sebuah corporate sebenarnya sangat sederhana yakni supaya klien atau konsumen merasa nyaman karena pada umunya konsumen dalam perusahaan pasti memiliki masalah atau kritik terhadap pelayanan yang ada, dari situlah peran PR sangat diperlukan agar para konsumen merasa terakomodasi, merasa diperhatikan tentang permasalahan atau sesuatu yang ingin mereka ketahui terhadap perusahaan tersebut.
pada umumnya tujuan dari seorang staf humas adalah menjaga reputasi perusahaan dimata konsumen, membangun citra positif serta memberikan rasa trust “kepercayaan” dari masyarakat kepada perusahaan atau masyarakat agar segala macam target perusahaan dan tujuan organisasi dapat tercapai tanpa kendala.

Pada sebuah perusahaan Pimpinan Utama dan public relations seharusnya merupakan satu unit wadah kerja. Public Relations dan pimpinan utama merupakan “dwi-tunggal” yang harmonis dalam menggerakkan perusahaannya. Pimpinan sebagai pemegang policy dan public relations sebagai penterjemah daripada policy itu.
Demikian pula dalam hal menanggapi akibat dari policy yang tengah-tengah publiknya, public relations menyampaikannya pada Pimpinan Utama perusahaan. Dengan demikian, selain sebagai penyambung lidah perusahaan atau organisasi Public Relations dapat pula dikatakan sebagai “jembatan penghubung” di antara dua macam publiknya, baik internal maupun eksternal.
Dari gambaran tersebut, maka ideallah jika kedudukan PR secara organisatoris memang harus berada sedekat mungkin dengan Pimpinan Utama, di atas bagian-bagian yang ada dalam perusahaan itu. Kedudukan tersebut diartikan sebagai fungsi menurut hierarki kerja dalam kaitannya dengan aspek komunikasi sebagai unsur-unsur yang ada dalam perusahaan, yakni dilihat secara vertikal.(Yulianita, 2007:85)
Sesuai dengan fungsinya, kedudukan PR dalam konteks yang ideal dalam suatu perusahaan atau organisasi, menduduki tempat sebagai konsultan perusahaan atau organisasi khususnya konsultan dalam hal kegiatan komunikasi manajemen perusahaan.
Namun, pada perusahaan-perusahaan yang kecil, biasanya tugas PR dipegang langsung oleh pimpinan sendiri. Misalnya toko-toko kecil, dokter-dokter yang berpraktek sendiri, konsultan-konsultan, dan perusahaan-perusahaan lainnya yang organisasinya relatif kecil.

1. Pr Dalam Kelompok Eksekusi Pembuat Keputusan (Koalisi Dominan)
Dalam suatu organisasi atau perusahaan, mungkin terdapat departemen komunikasi atau departemen PR yang kurang efektif jika fungsi dan perannya tidak terintegratif ke tingkat pimpinan manajemen puncak sebagai pengambil keputusan secara strategis atau istilah lainnya disebut posisi ‘koalisi dominan’.
Menurut Grunig (2002), peranan PR sebagai pengambil keputusan strategis pada level posisi koalisi, ditentukan juga oleh persepsi eksekutif manajemen puncak (CEO), jika penilaiannya tinggi maka posisi departemen dan eksekutif PR ditempatkan pada jajaran manajemen top koalisi dominan (top management decision making) dalam struktur organisasi perusahaan.
Namun sebaliknya, jika penilaian CEO tersebut rendah terhadap eksistensi profesional dan fungsi departemen PR, maka konsekuensinya hanya diangap sebagai praktisi yang memiliki keahlian teknis belaka dan hanya tenaga pelaksana progra kerja yang bersifat jangka pendek.

2. Pr Sebagai Koalisi Dominan
Koalisi dominan merupakan kelompok eksekutif yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam struktur organisasi untuk mengambil keputusan mengenai pencapaian tujuan, tugas, secara objective dan fungsi strategis. Keputusan koalisi dominan harus didukung dengan kaitannya masalah legalitas dokumen dan keabsahan kelembagaan yang diakui secara resmi. (Grunig : 2002)
Hasil kajian PRSA (Public Relations Society of America) pada tahun 1980 menjelaskan bahwa penjabaran PR dalam posisi koalisi dominan yaitu sebagai berikut :
Pihak PR mampu menjembatani kepentingan antara organisasi dan khalayak publik untuk saling beradaptasi satu sama lainnya.
PR berupaya agar organisasi dapat memenangkan kerja sama yang baik dengan pihak khalayak publiknya, baik internal maupun eksternal.

3. Pr Sebagai Boundary Spanner
Menurut Seitel P. Fraser (2004) PR sebagai manajer penghubung (Boundary Spanner) adalah berfungsi sebagai manajer penghubung antara organisasi dan publiknya, baik eksternal maupun internal. Dengan kata lain, satu kakinya berada dalam di dalam dan kaki lain berada di luar organisasi.
Secara umum PR sebagai Boundary Spanning secara profesional memiliki 2 kemampuan, sebagai “manajerial skill & sebagai tekhnikal skill”.
a. Kemampuan Tekhnikal Skill
Melakukan kegiatan melalui menghimpun melalui kliping, menganalisis atau mengevaluasi berita dari berbagai sumber media massa, dan hingga menciptakan media publikasi atau komunikasi organisasi.
b. Kemampuan Manajerial Skill
Memiliki kemampuan manajerial dalam hal menyusun konsepsi, perencanaan strategis, mengelola, memimpin, termasuk mengevaluasi efektivitas hingga kegiatan audit komunikasi organisasi tersebut yang merupakan nilai kontribusi boundary spanner untuk memperbaiki dn meningkatkan proses pengambilan keputusan secara efektif demi mencapai kepentingan kedua belah pihak.
Menurut Aldrich & Herker 1977 yang dikutip oleh Grunig (2002), bahwa praktisi PR sebagai Boundary Spanner adalah merupakan pelaksanaan 2 fungsi sekaligus yaitu :
1. Sebagai pengelola informasi
2. Berfungsi sebagai mewakili representasi kepentingan publik eksternal, dengan cermat memperhatikan penerimaan atau penolakan dari kebijakan strategis organisasi yang telah dibuat.
Dengan demikian, keberadaan PR harus terlibat penuh dalam program kegiatan semua tingkatan struktur organisasi, sebagai upaya untuk mengetahui pelaksanaan, arah tujuan atau sasaran managemen strategic di berbagai level manajemen prusahaan.
Departemen PR yang memiliki tujuan tersendiri, memformulasi, mengelola dnakan program melaksanakan program strategisnya dengan departemen terkait agar terhindar kesalahan kesalahan koordinasi program kegiatan dari tujuan dan sasaran utama grand strategic manajen organisasi.
DAFTAR PUSTAKA


RUANG LINGKUP PUBLIC RELATIONS
            Public relations atau humas sangat penting kaitannya dengan kinerja sebuah perusahaan atau instansi karena menjadi penghubung dan penyampai segala macam bentuk informasi kepada masyarakat atau khalayak umum, selain berhubungan dengan pihak luar atau eksternal public relations atau humas juga mempunyai fungsi internal bagi perusahaan atau organisasi. Berdasarkan ruang lingkupnya public relations juga terbagi menjadi dua yakni Eksternal dan Internal, dibagian internal kegiatan public relations ke dalam perusahaan (organisasi/lembaga) ini diperlukan untuk memupuk adanya suasana yang menyenangkan di antara para pegawainya, komunikasi antara bawahan dan pimpinan/atasan terjalin dengan akrab dan tidak kaku, serta masing-masing meyakini rasa tanggung jawab akan kewajibannya terhadap perusahaan (organisasi/lembaga). sedangkan runag lingkup eksternalnya tugas dari staf public relations berkaitan dengan stigma dan citra masyarakat terhadap perusahaan serta menjalin hubungan baik antara perusahaan dengan dunia luar seperti institusi pemerintahan, media, serta pihak-pihak terkait lainnya yang secara langsung dan tidak langsung akan berpengarauh kepada perusahaan.
1. Internal Public Relation
a.    Hubungan dengan karyawan (employee relations)
Seorang PR harus mampu berkomunikasi dengan segala lapisan karyawan baik secara formal maupun informal untuk mengetahui kritik dan saran mereka sehingga bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dalam organisasi/perusahaan, dengan demikian potensi terjadinya konflik antar karyawan terhindarkan.
b.    Hubungan dengan pemegang saham (stockholder relations)
Seorang PR juga harus mampu membina hubungan yang baik dengan pemegang saham, serta mampu mengkomunikasikan apa yang terjadi dalam organisasi/perusahaan.
c.    Labour relations (Hubungan dengan para buruh)
Ruang lingkup humas dalam hal ini seorang PR bertugas untuk menjaga hubungan baik antara pimpinan dengan para buruh agar tidak terjadi kesalah pahaman
d.    Manager relations (Hubungan dengan para manajer)
Manajer adalah orang-orang terpilih yang berandil besar dalam menentukan kebijakan perusahaan. Oleh karena itu, hubungan baik harus dijaga
e.    Human relations (Hubungan sesama manusia)
Ruang lingkup humas ini menyangkut hubungan yang baik yang harus dibina oleh perusahaan dengan seluruh warga perusahaan sebagai manusia agar timbul rasa persaudaraan, kesetiakawanan, dan nantinya akan memunculkan team work yang baik untuk mencapai tujuan instansi atau perusahaan.
2.    External Public Relations
      Kegiatan hubungan eksternal yang dilakukan oleh seorang Public Relations Officer, yaitu:
1.    Hubungan dengan komunitas (community relations)
            Membina hubungan dengan komunitas merupakan wujud kepedulian perusahaan terhadap lingkungan di sekitar perusahaan. Ini juga dapat diartikan sebagai tanda terima kasih perusahaan kepada komunitas.
 2.    Hubungan dengan pelanggan (costumer relations)
     dilakukan agar dapat meningkatkan loyalitas dan kepercayaan pelanggan terhadap produk dan perusahaan itu sendiri. Menurut Seitel (2001 : 455) tujuan hubungan konsumen antara lain  Mempertahankan pelanggan lama, Menarik pelanggan baru, Memasarkan/memperkenalkan produk atau jasa baru, Memudahkan penanganan keluhan pelangga, Mengurangi biaya.
            Costumer relations dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain plan tour, iklan, film, pameran, publisitas, brosur, dan special events.
3.    Hubungan dengan  media massa dan pers (media  & press relations)
            Hubungan dengan media dan pers merupakan sebagai alat pendukung atau media kerja sama untuk kepentingan proses publikasi dan publisitas berbagai kegiatan program kerja atau untuk kelancaran aktivitas komunikasi humas dengan pihak public

4.    Hubungan dengan pemerintah (government relations)
            Hubungan yang baik dengan pemerintah bisa memudahkan perusahaan dalam menyesuaikan kebijakan yang akan diambil dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga kebijakan tersebut terwujud sesuai dengan aturan pemerintah dan tidak melanggar hukum.
Contoh PR eksternal dalam suatu perusahaan :
·         Masyarakat, yaitu orang yang nantinya akan membantu kelancaran proses distribusi bahkan bisa saja sekaligus menjadi konsumennya.
·         Konsumen, yaitu pemakai produk dari suatu perusahaan.
·         Internet, yaitu bisa menaikkan jumlah pembelian produk dengan cara melakukan penjualan online.
·         Media, yaitu bisa menaikkan penjualan dengan memasang iklan yg menarik di media
·         Pasar, yaitu pasar yang strategis dan kondusif akan memudahkan pendistribusian produk
·         Bank, yaitu tempat penyimpanan agar dana perusahaan tetap berputar
·         Transportasi, yaitu transportasi yang baik melancarkan proses distribusi produk.
·         Cuaca, yaitu mempengaruhi pendistribusian produk.



DAFTAR PUSTAKA


http://smknegeri1salatiga.blogspot.co.id/2014/08/pengertian-humas.html

Selasa, 14 November 2017

tujuan dan fungsi Public Rellations

TUJUAN DAN FUNGSI PUBLIC RELATIONS
            Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, masyarakat atau publik sudah semakin kritis terhadap menyikapi pemberitaan atau informasi yang ada, maka peran humas sangat penting sebagai layanan publik untuk memberikan informasi yang jelas dan sesuai fakta yang ada agar dapat diterima public dan meluruskan rumor yang beredar. Seiring dengan maraknya isu palsu atau “ hoax “ yang belakangan ini banyak beredar di media sosial menjadi masalah yang serius, terlebih pemberitaan tersebut menyangkut nama baik seseorang, instansi atau perusahaan. Jika hal tersebut terus dibiarkan tanpa melakukan adanya upaya pembelaan dengan mengklarifikasi atau memberikan penjelasan pada akhirnya akan berakibat jatuhnya reputasi dan berdampak buruk pada korban hoax atau fitnah itu sendiri. Oleh karena itulah saat ini peran  staf public relation atau staf humas sangat penting yang tugasnya bisa dibilang penyambung lidah antara perusahaan, instansi atau organisasi ke masyarakat agar masyarakat atau publik mendapatkan titik terang tentang suatu kejadian atau informasi yang beredar. Dengan upaya klarifikasi atau penjelasan yang dilakukan diharapkan masyarakat atau khalayak umum dapat memperoleh informasi yang jelas sehingga pemberitaan negatif yang telah beredar dapat di klarifikasi dan mengembalikan citra positif perusahaan atau instansi. Untuk lebih dapat memahami tentang tujuan dan fungsi public relation berikut beberapa pendapat para ahli :
Tujuan Hubungan Masyarakat ( Public  Relations )                                     
Mengenai tujuan Public Relations dan berkaitan dengan definisi-definisi yang telah diuraikan, sudah menunjukan tujuan dari Public Relations itu sendiri. Menurut Grisworld tujuan PR adalah untuk meningkatkan kegairahan kerja para bawahan atau para karyawan dan bagaimana membangun hubungan yang harmonis antara pimpinan dan bawahan yang menekankan pada internal publik. Tujuan sentral PR yang akan dicapai adalah tujuan organisasi, sebab PR dibentuk atau digiatkan guna menunjang manajemen yang berupaya mencapai tujuan organisasi. Untuk mencapai tujuannya seorang Public Relations harus mengembangkan goodwill dan memperoleh opini publik favorable  atau menciptakan kerja sama berdasarkan hubungan yang harmonis dengan berbagai publik. Kegiatan Public Relations harus dikerahkan ke dalam (internal Public Relations) maupun keluar perusahaan.




Fungsi Hubungan Masyarakat ( Public Relation )
Menurut Maria (2002, p.31), “public relation adalah salah satu bagian dari satu nafas yang sama didalam suatu organisasi tersebut, serta juga harus memberi identitas organisasinya dengan tepat serta juga benar dan juga mampu untuk mengkomunikasikannya sehingga publik tersebut menaruh kepercayaan serta juga memiliki pengertian yang jelas serta benar terhadap suatu organisasi tersebut”.
Hal ini hanya sekedar memberikan gambaran mengenai fungsi public relation yakni sebagai berikut :
Pertama, Kegiatan yang bertujuan ialah untuk memperoleh itikad baik, kepercayaan, dan saling adanya pengertian serta citra yang baik dari publik atau juga masyarakat pada umumnya.
Kedua, mempunyai sasaran untuk dapat menciptakan opini publik yang dapat diterima serta juga dapat menguntungkan semua pihak.
Ketiga, Unsur penting didalam manajemen agar dapat mencapai tujuan yang spesifik, dengan sesuai harapan publik, namun tetapi merupakan kekhasan suatu organisasi atau juga perusahaan. Sangat penting bagaimana organisasi tersebut mempunyai warna, budaya, citra, suasana, yang kondusif serta juga menyenangkan, kinerja meningkat, serta produktivitas dapat dicapai dengan secara optimal.
Keempat, Usaha dalam menciptakan hubungan yang harmonis diantara organisasi atau juga perusahaan dengan publiknya, sekaligus untuk dapat menciptakan opini publik sebagai efeknya, yang sangat berguna ialah sebagai input bagi suatu organisasi atau juga perusahaan yang bersangkutan.
Dari penjelasan diatas disimpulkan bahwa public relation tersebut lebih berorientasi kepada pihak perusahaan untuk dapat membangun citra positif bagi suatu perusahaan, serta juga hasil yang lebih baik dari sebelumnya dikarenakan mendapatkan opini serta juga kritik dari konsumen.

namun Tetapi apabila fungsi public relation yang dilaksanakan tersebut dilakukan dengan baik benar-benar merupakan suatu alat yang ampuh untuk dapat memperbaiki, mengembangkan peraturan, budaya organisasi, atau juga perusahaan, serta juga suasana kerja yang kondusif, dan juga peka terhadap karyawan, maka diperlukan adanya pendekatan khusus serta motivasi
didalam meningkatkan kinerjanya.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa fungsi public relation ialah untuk memelihara, mengembangtumbuhkan, mempertahankan adanya suatu komunikasi timbal balik yang diperlukan didalam menangani atau juga  mengatasi masalah yang muncul atau juga meminimalkan munculnya masalah (Black, 2002).


DAFTAR PUSTAKA